<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387</id><updated>2011-04-21T11:00:36.845-07:00</updated><title type='text'>Perempuan dan Jihad</title><subtitle type='html'>TULISAN ini mengelaborasi kajian klasik Islam tentang posisi perempuan dalam perang. Kajian ini penting karena terkait dengan invasi Amerika Serikat ke Irak, di mana perempuan sebagai korban perang semakin tidak terbilang. Lebih dari itu, perang sebagai aktivitas politik duniawi sering kali mencari pembenarannya dari agama. Dan, ketika memasuki wilayah agama, tanpa ada pilihan, perempuan diposisikan sebagai obyek yang nyaris tidak punya suara.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111703528701274629</id><published>2005-05-25T08:30:00.000-07:00</published><updated>2005-05-25T08:38:11.416-07:00</updated><title type='text'>Israel Paksa Pemuda Palestina Tenggak Air Kencing</title><content type='html'>Mahkamah Israel di kota Al Quds vonis penjara 4 bulan dan 8 bulan terhadap dua tentara militer Israel setelah mereka berani memaksa warga Palestina (setelah diundi) untuk memaksa menenggak air kencing hingga pingsang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilansir IoL, peristiwa yang terjadi September 2004 ketika dua pemuda, Samih Rahhal dari Betlehem dan Farras Al Bikr dari Hebron ditahan Israel di perlintasan militer Abu Daisy di gerbang Al Quds dengan tuduhan tinggal tanpa izin. Keduanya diseret Israel ke hotel tanpa penghuni di wilayah Abu Disy yang digunakan pasukan penjaga perbatasan untuk mess. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim Israel mengatakan saat mengeluarkan vonis, salah satu tersangka mengaku dan berkata dalam pengadilan,”Memang perbuatan kami tak manusia,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasannya, mahkamah Israel juga menyatakan bahwa salah satu polisi Israel pernah memaksa Palestina untuk meminum air kencing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Palestina, Samih Rahhal menceritakan apa yang terjadi dengannya, bahwa salah satu tentara Israel yang memperlakukannya bertujuan untuk refresing. Para tentara penjajah Israel itu meletakan kertas dalam kaleng yang bertuliskan hukuman tertentu seperti mematahkan tulang betis, mematahkan tangan, minum air kecing dari botol yang sudah disiapkan, seperti yang disebutkan Quds Press Selasa (24/05). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tentara Israel itu memaksanya dengan seorang pekerja Palestina yang lain untuk memilih kertas dan melakukan sanksi yang tertulis. Ketika Samih menolak, salah satu polisi memukul tangannya dan diberi botol penuh dengan kencing dan disiramkan ke wajahnya.  Samih tak tahan dan mendorong pasukan Israel tadi. Pada saat itu enam tentara Israel menyerang memukulnya dengan senapan M 16 kemudian mendekatkan ke mulutnya untuk meminum air kencing itu. Ia mengatakan, mereka memaksaku minum air kencing hingga aku hilang pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Samih pingsan ia di bawah ke RS untuk dibersihkan pencernaanya dan diobati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlintasan-perlinatasan militer Israel secara terus menerus baik di Tepi Barat atau di Jalur Gaza yang jumlahnya mencapai 50 menjadi tempat untuk mengusir warga Palestina sejak INtifadhah September 2000. ada juga perlintasan mendadak yang disebut warga Palestina “thayyarah”.  Penderitaan warga Palestina di perlintasan tidak pernah henti, dari kekerasan, perampasan, penantian panjang hampir setiap hari berlangsung di sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111703528701274629?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sabilillah.blogspot.com' title='Israel Paksa Pemuda Palestina Tenggak Air Kencing'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111703528701274629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111703528701274629' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111703528701274629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111703528701274629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/israel-paksa-pemuda-palestina-tenggak.html' title='Israel Paksa Pemuda Palestina Tenggak Air Kencing'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111670195543070662</id><published>2005-05-21T11:56:00.000-07:00</published><updated>2005-05-21T11:59:15.436-07:00</updated><title type='text'>'Maklumat Perang kepada Allah SWT'</title><content type='html'>Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang paling aneh tetapi malah amat dicintai Allah SWT. Dalam serangkaian prahara yang bukan saja nyaris meluluhlantakkan eksistensi republik, Allah selalu ''turun tangan'' memberikan ''ma'unah-Nya'' agar republik ini utuh kembali. Sejarah bangsa ini juga sudah panjang lebar memberikan penjelasan secara tertulis. Tetapi, jarang sekali di antara kita sebagai bagian dari bangsa ini yang berkenan menyempatkan diri untuk bertafakkur, kenapa Allah tak pernah meninggalkan bangsa ini. Mengambil kesempatan barang sebentar dari banyak kesempatan yang dijatah Allah kepada kita untuk bertafakkur dan bertadabbur atas kondisi ini, menjadi penting karena itu akan membuka kesadaran terbawah kita tentang makna kehadiran Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa itu, kita tak akan pernah mampu ''membalas jasa'' atas banyak ma'unah Allah. Alih-alih bisa membalas jasa, menyadari bahwa Allah itu hadir dalam kehidupan bangsa ini, malah akan terasa sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, menjelang detik-detik pergelaran agenda nasional, ''Intikhoobul Malik'' (pemilihan pimpinan nasional/legislatif) yang akan menyita banyak perhatian serta menyedot tidak sedikit energi bangsa yang sudah teramat tipis, kita kembali akan menghadapi persoalan terpenting dalam penggalan kehidupan bangsa ini. Kalau kita sampai salah, sedikit saja dalam menentukan pilihan, maka prahara lanjutan kembali akan menghadang bangsa ini. Dalam penggalan-penggalan hidup sebelum ini, bisa jadi teramat jarang di antara kita yang menyadari kehadiran Allah dalam setiap persoalan yang dihadapi bangsa ini. Kini, masihkan Allah ''berkenan'' turun tangan untuk kesekian kalinya ketika kita dihadapkan pada banyak pilihan yang semuanya belum tentu baik dan benar bagi kehidupan bangsa ke depan? Memilih presiden atau anggota legislatif, tentu bukanlah soal yang mudah karena semakin banyak pilihan semakin luas kesempatan untuk menimbang-nimbang, dam semakin sempit pula pilihan itu menjadi benar dan tepat (Kullu Syay'in Idzaa Ittasa'a Dloqo). Tetapi sebaliknya, kalau pilihan yang disajikan amat terbatas, maka kesulitan bagi bangsa ini juga akan semakin meluas (Kullu Syay'in Idzaa Dloqo Ittasa'a).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dua kaidah Ushul Fiqih ini serta karena rumitnya pilihan-pilihan yang ada, maka ada baiknya bagi kita untuk tidak serta merta memasuki spektrum ini. Tetapi mari kita menyempatkan diri untuk memenuhi ajakan pertama di awal tulisan ini agar kita bertafakkur dan bertadabbur. ''Ya Allah, benarkah Engkau akan turun kembali, setelah serangkaian pengkhianatan kami lakukan dan sejumlah sumpah janji kepada-Mu kami ingkari. Masihkah ya Allah?'' Untuk menghindari bias emosi, mari kita telusuri jejak sejarah. Alkisah, setelah sekian ratus tahun bangsa ini dijajah oleh imperialis Belanda, karena keberadaan para ''Wali Allah'' yang ''muslih li ghoirihi yang menjadi pimpinan masyarakat kecil yang ''saleh'', maka Allah tetap menurunkan ma'unah-Nya agar bangsa ini selamat dan bisa segera mengakhiri penjajahan Belanda. Proses ini melahirkan seorang tokoh bernama Soekarno. Ketika pemerintahan Soekarno terjebak perang ideologis masih saja Allah SWT memberikan jalan konstitusional untuk menyelesaikan persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika peralihan kekuasaan jatuh ke tangan Soeharto, prahara kembali membuat kita kelimpungan. Untuk kesekian kalinya, Allah juga menurunkan ma'unah-Nya. Namun ketika Pak Harto sudah tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan pokok bangsa ini, prahara itu kembali datang. Tetapi sekali lagi ma'unah itu turun. Tak pernah bosan Allah ''turun tangan'' menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapi bangsa Indonesia ketika proses peradilan di Indonesia tidak lagi memberikan rasa adil. Kenapa? Kenapa Allah bisa begitu bermurah hati kepada kita? Benarkah ini sebuah hal yang kebetulan belaka? Menurut kacamata para wali, ini semua terjadi karena Allah masih punya agenda besar. Entitas bangsa ini akan selalu utuh kalau di tengah-tengah mereka masih terdapat seorang atau lebih para kekasih Allah yang kita biasa menyebut mereka dengan ''Wali-Wali Allah''. Tetapi sekali saja kita menyakiti hati wali-wali ini, maka itu artinya kita sudah ''memaklumatkan perang kepada Allah''. Kalau ini sampai terjadi, maka jangan pernah berharap Allah akan turun lagi untuk memberikan ma'unah-Nya kepada kita. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Anas Ibnu Malik yang mendapatkan kisah dari Baginda Rasul dan beliau memperolehnya dari Malaikat Jibril AS, Allah berfirman, ''Man Ahaana Lii Waliyyan Fa Qod Baarozanii Bil Muhaarobah'' (Barang siapa menyakiti salah seorang wali-Ku, berarti telah memaklumatkan perang kepada-Ku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keberadaan para wali dan komunitasnya yang mencintai Allah inilah, rupanya yang membuat bangsa ini selalu tercurahkan hujan ma'unah. Memang Allah tak pernah bergantung pada tingkat ketaatan seorang hamba kepada-Nya karena Allah akan tetap Maha Besar meski tak ada seorang pun dari manusia yang menyembah-Nya. Kalau ma'unah turun, itu semata karena Allah memenuhi janji-Nya. Janji-Nya adalah, ''Wa Man Ahbabtuhuu Kuntu Lahuu Sam'an Wa Bashoron Wa Yadaan Wa Muayyadan'' (Siapapun yang Aku cintai, maka Aku akan menjadi telinga, mata, tangan dan tiang penopang yang kokoh baginya). Dalam banyak riwayat disebutkan, proses cinta antara Allah dengan hamba-Nya sungguh tak pernah bisa dibandingkan dengan proses cinta antara manusia dan manusia yang lebih banyak karena pamrih. Sungguh tak tebayangkan gambaran cinta antara Allah dan hamba-Nya ini. Dia sampai-sampai menyatakan Diri siap menjadi bagian dari anggota tubuh kita. Kalau bangsa ini mendengar sesuatu, Allah berjanji akan menjadi telinga kita sehingga yang bisa masuk dalam pendengaran kita sebatas yang baik-baik saja dan membuat kita senang. Kalau bangsa kita melihat, maka yang akan terhampar di hadapan mata kita tentulah yang luar biasa indah dan membuat hati tenteram. Jika kita menggerakkan tangan, maka tangan kita hanya akan menyentuh hal-hal yang halal sekaligus baik. Allah menjanjikan akan siap menjadi tiang penyangga kita. Sungguh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas yang berasyik masyuk dengan cinta Allah ini, akan selalu hidup tenang dan membuat tenang komunitas lain yang berhubungan dengan komunitas cinta Allah. Karena itulah, kalau ada seorang pemimpin yang mencoba-coba merusak, menjadi orang ketiga, menebar rasa benci, Allah akan langsung ''cemburu'' dan akan langsung memberikan pembelaan kepada rakyat yang sungguh mencintai Allah SWT ini. Komunitas semacam ini, jangan pernah diganggu karena advokad mereka adalah Allah Yang Maha Adil dan Maha Perkasa. Tetapi bangsa ini akan semakin menjelma ''negeri thoyyibatun wa robbun ghofuur'', kalau para pemimpin dengan rakyatnya saling mencintai. Dan Allah akan semakin mencurahkan rasa sayang, kalau para pemimpin dan rakyatnya yang saling mencintai juga mencintai Allah SWT. Kalau proses saling mencintai antara manusia dengan Allah ini terjadi, maka pemimpin tiran seperti apa pun tak akan ada gunanya bertangan besi, tak akan berdaya meski berotot kawat, dan tak akan bertahan lama meski hidup dalam limpahan harta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kalau kita belum bisa menemukan pemimpin yang mencintai rakyatnya dan mencintai Tuhannya, maka cukuplah bagi kita sebagai rakyat untuk saling mencintai. Sebab, bila dilahirkan seorang pemimpin tetapi tidak menyayangi kita, Allah akan mengganti dengan proses yang tak pernah kita bayangkan. Untuk soal ini Allah akan mengambil tindakan yang ''inkonstitusional'' untuk menyelamatkan sebuah bangsa yang saling mencintai dan mencintai Allah SWT. Sebuah riwayat dalam Hadits Qudsy menuturkan, ''Jibril, Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia''. Jibril pun lantas mencintai si Fulan dan ia lantas berseru kepada segenap penghuni langit lainnya. ''Allah SWT mencintai si Fulan, maka hendaklah kalian juga mencintainya''. Para penghuni langit pun lalu mencinta si Fulan dan si Fulan lantas diterima semua penghuni bumi. Wallaahu A’lamu Bish Showaab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111670195543070662?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111670195543070662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111670195543070662' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111670195543070662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111670195543070662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/maklumat-perang-kepada-allah-swt.html' title='&apos;Maklumat Perang kepada Allah SWT&apos;'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111670168358523445</id><published>2005-05-21T11:40:00.000-07:00</published><updated>2005-05-21T11:54:43.606-07:00</updated><title type='text'>Syariat Islam di Aceh, Siasat Budaya Neo-Snouckis?</title><content type='html'>Apakah agama diperuntukkan bagi penciptaan manusia yang bercitra sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan? Namun, bukankah agama juga bisa diperuntukkan bagi penciptaan manusia yang bercitra sebagaimana yang dikehendaki oleh manusia. Bahkan, negara pun bisa menggunakan agama untuk mencitra manusia sesuai dengan yang dikendaki ideologinya (nasionalisme). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pertama, agama masih berada dalam wilayah teologis. Sedangkan persoalan berikutnya, agama sudah berada di wilayah ideologis. Dalam perspektif pascakolonial, agama sudah menjadi instrumen dalam proyek kolonialisme. Perbedaannya, jika persoalan yang kedua aktornya adalah individu atau komunitas ulama, maka persoalan yang ketiga aktornya adalah negara (institusi politik). Celakanya, bahkan kerap, aktor individu jumbuh dengan aktor negara jika kita melihat pada konteks kehidupan orang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), agama sebagai instrumen kolonial, tercermin dalam pertanyaan yang diajukan kepada responden di Aceh: “Apakah ibu/bapak lebih merasa sebagai orang dari suku-bangsa asal seperti Jawa, Sunda, Batak, Minang, dll., lebih sebagai orang dari agama tertentu (Islam, Kristen, dll.), atau lebih merasa sebagai orang Indonesia?” Perumus pertanyaan tersebut membandingkan antara identitas etnik, religius dan ideologis. Hasilnya, menurut LSI bahwa orang Aceh lebih bangga menjadi orang Indonesia daripada seorang muslim. Dengan lain kata, keindonesiaan (identitas ideologis) telah melampaui keislaman (identitas religiusitas) dan keacehan (identitas etnis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan konteks historis dan kekinian agama dalam perspektif pascakolonial, Aceh memang merupakan wilayah—dalam artian teritori dan waktu—di mana agama telah menjadi prototipe ideal instrumen kolonialisasi. Meskipun hal ini sering berada di luar kesadaran sosiologis orang Aceh. Bahkan ulama Aceh itu sendiri, serta cendekiawan muslim nusantara serta komunitasnya tidak sadar jika mereka telah berubah dari aktor teologis menjadi aktor ideologis yang mana mereka telah menggunakan agama sebagai instrumen kolonialisasi— teristimewa dalam periode bernegara pascakolonial (selepas 1945, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori pascakolonial, negara pusat bukan saja mengambil alih secara paksa sebuah wilayah dan populasi manusia, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi, politik dan budaya kolonial di wilayah itu yang memberikan keuntungan semaksimal mungkin pada negara pusat. Negara pusat terus berpikir untuk menciptakan siasat militer, dan siasat kebudayaan agar wilayah dan populasi yang dikuasainya menjelma menjadi sebuah koloni yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, siasat kebudayaan adalah penghilangan keaslian karakter budaya di koloni (dekonstruktif) sehingga terbentuk mental “kompleks inferioritas”, serta membentuk budaya baru yang berkiblat ke pusat koloni (rekonstruktif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snouckis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka berpikir siasat kebudayaan (kolonialisasi) itulah, Pemerintah Kolonial Belanda mengirim Snock Hurgronje. Apalagi, siasat militer tidak berhasil menjadikan Aceh sebagai sebuah koloni yang utuh. Perang Aceh berhasil mengulur waktu yang panjang (1873-1949), menyita energi yang melelahkan dan menguras dana yang sangat besar. Bahkan melampaui daya dukung keuangan serikat dagang dan negara itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak negatif lainnya bagi negara pusat, siasat militer justru mengkristalkan spirit perlawanan yang manifes maupun laten di dalam diri orang Aceh. Di satu sisi, orang Aceh semakin mengidealkan dirinya menjadi gerilyawan, dan berakhir sebagai syuhada. Idealisasi orang Aceh bukan dalam artian sentimen terhadap nonmuslim, melainkan bertindak memerangi kemungkaran yang aktornya secara kebetulan jumbuh dengan individu non-muslim dan negara asing. Di sisi lain, serdadu mengalami stress dan menjadi bertindak brutal, juga para perwira tingginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah siasat kebudayaan kolonial yang dijalankan Snouck di Aceh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target siasat itu langsung ke akar yang menghidupkan orang Aceh, yakni Islam. Karena itu, Snouck melakukan riset yang intensif untuk mengetahui pengaruh Islam terhadap kehidupan politik, ekonomi dan budaya orang Aceh. Meskipun hasil risetnya lebih tepat disebut sebagai studi kasus tentang eksistensi agama dalam kehidupan orang Aceh yang berada di wilayah dataran rendah, Aceh Besar. Meskipun demikian, studi ini memberikan inspirasi pada Snouck untuk merumuskan siasat budaya bagaimana ‘menjinakkan’ Islam di Aceh khususnya, dan wilayah koloni Hindia Belanda umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siasat kebudayaan ini bukanlah kristenisasi, melainkan reislamisasi orang Aceh. Bukan pula, transformasi identitas dari keislaman menjadi kebelandaan. Islam yang berspirit melawan (kemungkaran) negara pusat harus direkonstruksi menjadi Islam yang loyal terhadap pusat kolonial, tanpa peduli terhadap kemungkaran. Islam harus dijadikan instrumen utama kolonialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan yang tajam antara siasat militer dan siasat kebudayaan kolonial. Siasat militer, jika jenderal mati, maka mesjid di bakar. Ketika Kohler mati, maka Masjid Raya pun dibakar oleh serdadunya. Siasat kebudayaan justru sebaliknya, aktor kolonial harus menjadi imam mesjid, maka mesjid harus dibangun lebih megah lagi. Karena itu, proyek budaya yang utama adalah membangun kembali Masjid Raya dengan merujuk pada arsitektur Taj Mahal yang megah dan menyimbolkan kecintaan yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Snouck mendekonstruksi identitas keacehan. Bahwa negara tradisional Aceh adalah negara perompak. Bahwa tingkat intelektualitas keagamaan ulama Aceh adalah rendah. Bahwa religiusitas orang Aceh adalah mistis dan takhayul. Padahal, di sisi lain, Snouck mengakui spirit keagamaan orang Aceh berbasis pada sufisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merekonstruksi mesjid, Snouck mengintervensi manajemen masjid—bahkan ia berhasil menjadi imam besar—setelah bekerjasama dengan seorang kadi hulubalang Aceh. Tahap berikutnya, Snouck menata kembali institusi keagamaan agar lebih birokratis. Hal yang penting adalah pengangkatan H. Hasan Mustapa—kenalan utamanya sejak di Mekkah dan ulama yang berasal dari kalangan kelas menengah Sunda—sebagai Penghulu Besar di Aceh selama dua tahun. Lalu, ia diganti oleh Raden Haji Muhammad Rusydi—yang masih memiliki tali kekerabatan. Sejak itulah Islam menjadi instrumen politik kolonial yang terlembaga, yang kemudian dilanjutkan di dalam konteks Indonesia sebagai departemen agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neo-Snouckis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif pascakolonial, apakah siasat budaya kolonial masih terus dilanjutkan di dalam negara modern Indonesia—dengan versi barunya, yakni kolonialisme modern—yang selaras dengan prinsip negara kesatuan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengacu pada tesis Loomba, maka kemerdekaan tidak secara otomatis memusnahkan siasat budaya kolonial. Bahkan, kelangsungan siasat budaya kolonial bisa dimanipulasi sebagai bagian dari semangat nasionalisme yang terus-menerus dipompa oleh elite penguasa negara baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kolonialisme modern, wilayah politik terbagi dua, yakni pusat dan daerah dalam relasi yang sentralistik. Sistem demikian juga dipakai di Indonesia. Polanya, sistem politik harus memperkuat otoritas pusat dan memperlemah otoritas daerah. Sistem ekonominya, daerah adalah wilayah eksploitasi sumberdaya alam dan pusat adalah pengelola hasil sumberdaya alam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem kolonial lama, daerah yang memberikan upeti ke pusat. Sekarang, bukan lagi upeti, tetapi semua alat produksi dimiliki dan dikelola oleh pusat. Pusat ‘menyedekahkan’ hasilnya kepada setiap daerah, sesuai dengan kemurahan hati pusat. Kemudian, daerah adalah pasar dan konsumen terhadap industri yang menumpuk di (wilayah) pusat kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah dengan siasat yang berkenaan dengan identitas budaya daerah? Apakah setelah kemerdekaan, identitas budaya lokal yang telah dipunahkan oleh pemerintah kolonial mendapat kesempatan atau didorong kembali untuk hidup oleh penguasa pusat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim Soekarno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena gerakan pemberontakan daerah, khususnya DI/TII di Aceh dalam periode Soekarno, jika dilihat dari perspektif pascakolonial, adalah akibat dari masih dilanjutkannya sistem-sistem kolonial itu. Apa yang dilakukan oleh Tgk Daud Beureueh adalah perlawanan terhadap dominasi sistem kolonial modern yang dipraktekkan rezim Soekarno. Praktek kolonial modern ini sangat terasa di luar wilayah Indonesia Luar ketimbang di Indonesia Dalam (dalam pembagian Geertz). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Indonesia Luar, pihak kolonial relatif tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun sistem politik dan ekonomi yang kuat atau, wilayah ini tidak pernah menjadi pusat kolonial. Akibatnya, ada pola metamorfose yang berbeda dalam menyikapi kelanjutan sistem kolonial antar komunitas keagamaan di Indonesia. Di sana, komunitas keagamaan membangun perlawanan terhadap dominasi pusat, termasuk menjadi gerakan politik bersenjata. Apalagi sebagian dari tokohnya adalah pemimpin gerilya di masa kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia Dalam, komunitas keagamaan berupaya mengintegrasikan diri ke dalam struktur birokrasi pemerintahan. Karena itu terjadi kompetisi politik yang tajam, misalnya antara NU dan Muhammadiyah, dalam perebutan jabatan kementerian agama—yang merupakan proyek kolonial. Mereka berebut menjadi bagian dari rezim baru yang melanjutkan proyek kolonial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasinya dengan kekuasaan, NU mengeluarkan fatwa bughat terhadap gerakan perlawanan muslim di wilayah Indonesia Luar. Fatwa ini merupakan bentuk awal komunitas keagamaan yang jumbuh dengan kekuasaan. Sebuah fatwa yang menghalalkan pembunuhan muslim di Indonesia. Berikutnya, adalah keterlibatan mereka dalam aksi pembasmian PKI yang dimobilisasi serdadu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara siasat budaya yang menyangkut identitas daerah, Pusat membangun versi baru. Jika dahulu kebanggaan identitas dikaitkan dengan Hindia Belanda, maka sekarang kebanggaan terhadap keindonesiaan (nasionalisme), mulai dari propaganda “ganyang Malaysia” hingga kebanggaan terhadap proyek-proyek mercusuar. Ganyang Malaysia menunjuk pada kebencian sesama etnik melayu akibat nasionalisme (hitam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, orang mulai bangga menyebutkkan bahwa pabrik Gula Cot Girek adalah pabrik terbesar dan termodern di Indonesia. Orang Aceh merasa inferior atau tidak modern bila tidak berbahasa Indonesia. Sementara, konsesi politik pasca DI/TII yang berkenaan dengan tiga keistimewaan Aceh (dalam bidang agama, adat dan pendidikan)—yang sebenarnya dapat menjadi basis bagi siasat budaya perlawanan lokal terhadap budaya dominan—tidak berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim Soeharto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode Soeharto, tiga keistimewaan itu diabaikan secara legal dengan Undang-undang Pemerintah Daerah dan Pendidikan Nasional. Bahkan, upaya mengimplementasikan tiga keistimewaan itu dengan mudah dihantam oleh isu komando jihad, dan Gerakan Pengacau Liar (GPK) dalam periode DOM (1989-1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas lokal diorientasikan pada kebanggaan terhadap industri eksploitasi gas alam Arun. Industri itu dipropagandakan sebagai penghasil gas terbesar di dunia, yang menggunakan teknologi tercanggih (supra modern). Orang Aceh bangga—khususnya kaum birokrat dan kelas menengah atas—bahwa gagasan pembentukan Bappenas berasal dari pengembangan gagasan Aceh Development Board (ADB). Orang Aceh bangga bahwa pelembagaan ulama (Majelis Ulama Indonesia) adalah berasal dari Aceh. Elite agama Aceh tidak sadar bahwa pelembagaan ulama merupakan kelanjutan dari proyek kolonialisasi yang telah dilakukan oleh Snock Hurgronje. Pelembagaan itu merupakan siasat budaya pusat untuk mengontrol ulama melalui institusi birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam periode negara modern, komunitas muslim selalu disediakan musuh oleh penguasa politik. Islam dan muslim dibenturkan dengan non-Islam dan non-muslim. Islam dan muslim dibenturkan dengan komunisme (Tragedi ‘65). Hal ini membentuk karakter Islam eksklusif. Islam dan muslim dibenturkan dengan Islam dan muslim yang dilabel dan dipropagandakan oleh penguasa sebagai Islam radikal dan komunitas komando jihad (komji). Hal ini membentuk karakter Islam introvert. Jadi proyek kolonialisme modern melahirkan Islam eksklusif dan introvert—yang sesuai dengan ranah budaya agraris pedalaman dan rezim politik yang represif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kala, saya bertemu dengan seorang inisiator PKI di Aceh yang telah bermukim di Amsterdam. Saya terkejut ketika ia mengatakan bahwa yang pertama sekali dieksekusi (extra judicial killing) di Aceh adalah enam perempuan. Hal ini menunjukkan proyek kolonialisme modern yang menjadikan Islam sebagai instrumen politik berdarahnya telah merasuk sangat dalam. Muslim membantai muslim yang berideologi berbeda, bersimpati atau berkerabat dengan pengikut komunisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh serdadu, pola ini digunakan lagi di masa DOM. Sejumlah ulama dibawa ke kamp-kamp penyiksaan dan pembantaian serdadu untuk memberikan ‘siraman rohani’. Kesaksian para tahanan bahwa ulama justru menyalahkan, bahkan memberikan label berdosa pada mereka karena melawan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa ulama Aceh telah memiliki karakter politik yang sama dengan ulama di Indonesia Dalam. Ulama menjadi buta terhadap tindakan mungkar dan dzalim (serdadu) yang terjadi di dalam kamp militer tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Islam dan muslim telah menjadi instrumen dan aktor proyek kolonialisme modern, maka spirit perlawanan (jihad) terhadap kemungkaran (korupsi) dan kezaliman (pelanggaran HAM) penguasa politik hilang. Akar spirit gerakan perlawanan terhadap rezim Soeharto bukan bersumber pada agama dan bukan digerakkan oleh ulama, melainkan bersumber dari akumulasi pengalaman hidup rakyat yang pahit dan berdarah selama tiga dasawarsa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Reformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lebih tragis lagi bagi Aceh, di pascareformasi terjadi kejumbuhan antara aktor agama dan aktor negara dalam melanjutkan proyek-proyek kolonialisme modern di masa kekuasaan Abdurrahman Wahid. Siasat budaya yang berlaku—dengan menggunakan dana bantuan Sultan Brunei Darussalam—adalah merelasikan antara ulama Aceh dan NU. Dalam setiap muktamar NU, misalnya muktamar tarekat yang muktabarah, maka ulama Aceh dihadirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian rezim mempropagandakan ulama sebagai pemilik otoritas tertinggi terhadap seluruh tatanan kehidupan orang Aceh. Penguasa pusat bermaksud untuk memotong pengaruh GAM dalam masyarakat dengan meminjam tangan ulama Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, penguasa pusat mempropagandakan pada komunitas internasional bahwa orang Aceh adalah penganut Islam yang sangat fanatik dan radikal. Orang Aceh adalah kaum muslim yang tertutup dan eksklusif. Orang Aceh sangat membenci orang asing, apalagi non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, serdadu memberikan tekanan khusus bahwa pendanaan GAM ditopang dari hasil penjualan ganja. Sementara sebaran ganja Aceh ke seluruh pelosok nusantara paralel dengan asal-usul kesatuan serdadu yang dikirim ke Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siasat budaya ini dikembangkan menjadi proyek kriminalisasi manusia. Orang Aceh adalah pemadat ganja. Media elektronik dan cetak di Indonesia pun mengekspose penangkapan anggota sindikat ganja, apalagi bila ada pelakunya yang berasal dari Aceh. Media melanjutkan dan ikut mempertajam diskriminasi etnis yang berbasis ganja sebagaimana yang diskenariokan oleh serdadu. Lalu, serdadu memaksa pihak ulama untuk mengeluarkan fatwa yang menyangkut ganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif pascakolonial, tindakan kriminalisasi orang Aceh—dengan menggunakan ganja—adalah salah satu bagian dari paket dehumanization jika kita merujuk pada konsep kolonialisasi Frantz Fanon. Masih ada tindakan lainnya di dalam paket tersebut, antara lain, pemarakan perdagangan ilegal, perjudian, pelacuran, pencurian, pembunuhan massal, perbudakan seks di kamp militer, disgregasi etnis dan pembunuhan misterius. Ada dua hal yang diharapkan dari siasat ini, pertama inferioritas orang Aceh, konflik horizontal, dan orang Aceh menjadi manusia traumatik. Kedua, membangkitkan gairah masyarakat di luar Aceh untuk mencurigai, men-sweeping dan menghukum orang Aceh yang bermukim di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek budaya lainnya adalah memberikan legalitas pemberlakukan syariat Islam. Hal ini justru digunakan untuk meneguhkan propaganda pada komunitas internasional: “Lihatlah, orang Aceh sangat fanatik. Mereka ingin mendirikan negara Islam di dalam Indonesia. Mereka kaum muslim yang potensial menjadi kelompok teroris. Buktinya, lihatlah apa yang dilakukan GAM!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitasnya, pemberlakuan syariat Islam merupakan proyek kolonialisme modern untuk memasukkan orang Aceh ke dalam ‘kerangkeng besi’. Padahal, kasus-kasus korupsi tidak diadili dengan syariat, melainkan dengan UU Tindak Pidana. Kasus-kasus pelanggaran HAM oleh serdadu tidak bisa disentuh oleh syariat, melainkan dengan peradilan koneksitas dan peradilan militer. Kasus-kasus pemerkosaan juga hanya masalah indisipliner serdadu. Kasus-kasus judi, togel dan narkoba (shabu-shabu) yang dibekingi serdadu tak terjangkau syariat. Bahkan kasus pembunuhan yang dilakukan serdadu terhadap istri mantan walikota pun tidak masuk ke dalam peradilan syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum syariat hanya menjangkau laki-laki Aceh yang tidak pergi ke masjid di hari Jumat. Perempuan Aceh tidak memakai jilbab. Kaum muda Aceh yang pacaran di pinggir pantai. Singkatnya, pemberlakuan syariat ibarat memakaikan sepatu besi yang kekecilan pada kaki-kaki orang Aceh yang melakukan perlawanan terhadap aktor kolonial versi baru—yakni kaum dan penguasa Neo-Snouckis. Pemberlakuan syariat di Aceh hanya merupakan salah satu siasat budaya kolonialisme modern yang menguntungkan pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dan muslim dalam ranah non-teologis dapat ditafsir dari perspektif pascakolonial. Aceh menjadi konteks historis dan politik kekinian yang ideal untuk menemukan bagaimanakah Islam dan muslim digunakan sebagai instrumen dan aktor dalam proyek budaya kolonialisme modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek kolonialisme ini tanpa disadari telah tertanam di dalam kaum terpelajar muslim, atau kelas menengah Aceh. Fenomena itu semakin tampak tegas pada perilaku elite agama periode pascatsunami. Ceramah-ceramah agama di mesjid menegaskan bahwa bencana alam tsunami terjadi karena kemurkaan Allah SWT terhadap amoralitas orang Aceh yang sudah keluar batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban tsunami mendapat siraman rohani, misalnya: “Bersabarlah dalam menghadapi cobaan Tuhan, Tuhan akan menyayangi mereka yang bersabar.” Sementara bantuan kemanusiaan dari seluruh penjuru dunia tidak sampai kepada mereka karena ada kontrol dan akumulasi yang dilakukan oleh serdadu. Ulama bukannya menyiram rohani serdadu: “Bahwa tindakan mengontrol, mengakumulasi dan melakukan diskriminasi politik dalam kaitannya dengan bantuan adalah perbuatan mungkar dan dzalim. Allah SWT akan melaknati kalian, wahai kaum serdadu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda berikutnya, ulama mulai peka dan mudah terhasut dengan isu kristenisasi. Bahkan, segala sesuatu yang asing (LSM dan serdadu) adalah identik dengan Kristen. Ulama pun meminta elite penguasa untuk mengontrol dan menyeleksi orang asing dengan mindset orang kafir. Di dalam benak mereka sudah terjadi dialog: “Tidak mungkin orang asing membantu Aceh dengan tanpa kepentingan. Adapun kepentingan itu adalah kristenisasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang juga penting, apakah muskil rekonstruksi pascatsunami merupakan proyek budaya neo-snouckis (kolonialisme modern) yang terbesar di abad 21? Proyek budaya kolonial modern yang bertujuan merubah orang Aceh menjadi manusia-manusia kolonial dan beragama sesuai dengan format kolonial modern, dan pelakunya berasal dari etnik dengan agama yang sama dengan orang Aceh itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini betul-betul terjadi, maka bukan saja orang Aceh telah ditipu, melainkan komunitas internasional yang membantu Aceh atas dasar spirit kemanusiaan juga telah ditipu. Bayangkan saja, bantuan kemanusiaan telah digunakan untuk mendehumanisasi manusia lainnya (orang Aceh). Naudzubillah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111670168358523445?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111670168358523445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111670168358523445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111670168358523445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111670168358523445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/syariat-islam-di-aceh-siasat-budaya.html' title='Syariat Islam di Aceh, Siasat Budaya Neo-Snouckis?'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111651152465698032</id><published>2005-05-19T07:01:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T07:05:24.656-07:00</updated><title type='text'>Ayah dan Anak Berebut Syahid</title><content type='html'>Bismillahir rahmanir rahiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepahaman para sahabat atas keridhoan Allah, hari akhir, syurga dan hal2&lt;br /&gt;yang seumpama dengan itu adalah kepahaman yang terbaik diantara kita&lt;br /&gt;para manusia. Bukan kita orang2 akhir zaman, dan bukan pula wali2 yang&lt;br /&gt;jelas2 telah menjadi asbab tersebarnya dienul Islam ke seluruh pelosok&lt;br /&gt;dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah (saw) hendak berangkat ke Badar pada saat2 dimana&lt;br /&gt;Allah (swt) menguji keimanan mereka, maka Sa'ad bin Khaitsamah (ra) dan&lt;br /&gt;ayahnya, Khaitsamah bin Harits (ra), saling berebut untuk turut&lt;br /&gt;menyertai Rasulullah (saw) ke Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal itu, maka Rasulullah (saw) menentukan, "Yang boleh pergi&lt;br /&gt;hanya salah satu diantara kalian. Jadi undilah diantara kalian berdua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaitsamah (ra) berkata kepada anaknya, Sa'ad (ra), "Sebaiknya aku saja&lt;br /&gt;yang berangkat dan kamu tinggal untuk menjaga kaum perempuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'ad (ra) menjawab, "Kalau tidak karena surga, maka saya akan mengalah&lt;br /&gt;kepadamu, ayah. Akan tetapi saya ingin sekali mendapatkan surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diundi, maka nama Sa'ad yang keluar. Dengan demikian maka dialah&lt;br /&gt;yang diizinkan untuk mengikuti perang bersama Nabi (saw) ke Badar. Dan&lt;br /&gt;dalam perang tersebut ternyata Sa'ad terbunuh oleh Amr bin Abdu Wadd.&lt;br /&gt;[1] Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik..." (QS. Al-Ankabut, 29 : 69) &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar..." (Al-Hadits)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111651152465698032?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111651152465698032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111651152465698032' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111651152465698032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111651152465698032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/ayah-dan-anak-berebut-syahid.html' title='Ayah dan Anak Berebut Syahid'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111651109496232028</id><published>2005-05-19T06:56:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T06:58:35.556-07:00</updated><title type='text'>Wanita Dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>Salah satu pembahasan penting di dalam Islam adalah pembahasan tentang wanita. Lebih tepatnya, pembahasan yang bertalian erat dengan sebuah pertanyaan besar, bagaimana Islam memandang wanita? Apakah ia memandang dengan mata yang sama sebagaimana memandang pria, ataukah dengan pandangan yang lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin sering mendengar dan membaca pembahasan ini dibahas oleh banyak kalangan dan diseminarkan dalam berbagai kesempatan. Terdapat berbagai pendapat dan perbedaan pandangan yang sedemikian tajam, dengan berbagai motivasi dan latar belakang, agama, sosial, politik dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita menengok kembali perlakuan apa yang diterima oleh kaum wanita di sepanjang sejarah sebelum datangnya Islam dan pada ajaran agama-agama lain selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita sebelum Islam&lt;br /&gt;Riwayat hidup kaum wanita sebelum Islam dapat kita bagi pada dua bagian; &lt;br /&gt;Pertama, riwayat kaum wanita di tengah-tengah masyarakat manusia yang tidak memiliki tamaddun dan peradaban. Wanita di zaman itu, alih-alih dipandang layaknya manusia, malah dianggap sebagai makhluk yang sama dengan binatang. Para kaum lelakilah yang diakui sebagai manusia. Mereka dapat memanfaatkan dari kaum wanita apa yang mereka kehendaki untuk kebutuhan keseharian mereka, bekerja untuk memasak makanan mereka, melayani kebutuhan seks mereka, menyusui anak-anak mereka, memperdagangkan mereka, dan bahkan memakan mereka. Jadi, mereka sama sekali tidak memiliki hak sekecil apapun, bahkan hak yang paling asasi, yaitu untuk menghirup udara dan hidup di atas muka bumi ini, apalagi hak posesi, jual beli ataupun hak-hak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, riwayat kaum wanita di tengah-tengah masyarakat manusia yang telah memiliki peradaban dan tamaddun. Berbeda dengan yang pertama, kaum wanita pada kurun ini tidak lagi dianggap sebagai binatang. Mereka sudah terangkat harkatnya sebagai manusia. Meski begitu, mereka masih ditempatkan sebagai manusia nomer dua. Artinya, wanita adalah manusia yang berada di bawah kekuasaan mutlak kaum lelaki. Kekuasaan itu kemudian menjadi sebuah adat istiadat yang mengikat kaum hawa. Oleh karena itu, wanita adalah manusia yang tidak memiliki hak apapun terhadap dirinya, apalagi terhadap orang lain. Begitu pula, mereka tidak memiliki hak untuk memiliki dan memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh atas keadaan wanita di era yang kami sebutkan ini, adalah pada zaman Jahiliyah di semenanjung jazirah Arabia. Al-Quran menceritakan kepada kita bagaimana nasib para wanita di zaman itu. Mereka merasa malu jika dikaruniai seorang anak perempuan, karena yang berlaku di zaman itu adalah hukum kesukuan atau qabilah, dimana suku yang dapat menang dalam peperangan akan hidup secara terhormat, sementara yang lainnya harus tunduk terhadap apa yang mereka putuskan. Oleh karena itu, yang menjadi kebanggaan dan idaman setiap orang di zaman itu adalah keperkasaan seorang lelaki dalam peperangan yang hampir tidak ada hentinya sepanjang tahun. Adapun seorang perempuan hanya bisa berada di rumah, tidak dapat membantu kaum lelaki dalam peperangan dan bahkan merepotkan kaum lelaki dengan harus memikirkan kehidupan mereka serta apa yang mereka butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Quran, Allah menceritakan kepada kita dalam surat An-Nahl:57-58, “Jika salah seorang mereka diberi kabar )gembira( akan kelahiran seorang anak wanita, maka wajah mereka menjadi merah dan marah. Mereka harus memilih salah satu diantara dua pilihan; memelihara anak perempuan tersebut dengan resiko harus menanggung malu di tengah masyarakat atau menguburnya hidup-hidup. Sungguh keji apa yang mereka lakukan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kaum wanita di zaman itu juga tidak memiliki hak hidup, maka yang menentukan apakah ia akan bertahan hidup atau tidak adalah ayahnya. Jika ayah telah memutuskan untuk membiarkannya hidup, maka dialah yang berkuasa atas segala-galanya, karena dia yang menanggung beban atas keberlangsungan hidup anak perempuannya. Oleh karena itu, ketika ia telah tumbuh dewasa, seorang wanita di zaman itu tidak memiliki hak apapun. Hak untuk mendapatkan warisan, hak untuk jual beli dan hak untuk memiliki. Sebaliknya sang ayah berhak untuk mengawinkannya kepada siapapun yang dia kehendaki. Dan, apabila ditinggal mati oleh suami, anak-anak lelakinya berhak mengawinkannya kepada yang mereka kehendaki, bahkan mereka sendiri pun berhak untuk mengawininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ajaran agama-agama lain selain Islam, baik agama bumi maupun agama langit yang telah tercemar oleh tangan-tangan kotor, begitu juga di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Misalnya disebutkan, bahwa wanita diciptakan dari sisa kaum laki-laki atau tulang rusuk kaum lelaki. Di dalam Hindu dinyatakan, bahwa kaum wanita adalah sumber kejahatan dan dosa. Dan sampai saat ini, seorang wanita –masih dalam ajaran Hindu- tidak berhak mendapat warisan dari ayah atau suaminya. Begitu juga dalam agama Yahudi disebutkan, bahwa wanita adalah sumber kehinaan dan pembangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Menurut Ajaran Islam&lt;br /&gt;Setelah datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi besar Muhammad saww maka kita dapati ajaran suci yang dibawa oleh beliau adalah ajaran yang menjadikan manusia, baik laki-laki ataupun wanita, sebagai khalifah di atas muka bumi. Artinya, manusia adalah makhluk Allah swt yang memiliki hak untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana, maka Dia telah menetapkan hukum dan aturan bagi laki-laki dan wanita. Jika aturan-aturan tersebut diterapkan dengan baik, manusia yang terdiri dari laki-laki dan wanita akan menggapai tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan dan kesempurnaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Quran dan hadits-hadits Nabi serta para Imam as, kita akan dapati bahwa Allah swt memberikan beberapa persamaan hak dan kewajiban (hukum) yang sama antara pria dan wanita, diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: dalam kapasitasnya sebagai makhluk Allah swt., Al-Quran menganggap wanita sebagai manusia sebagaimana laki-laki. Allah swt berfirman di dalam surat Al-Hujurat:13, “Wahai manusia sesungguhnya kami ciptakan kalian dari jenis kelamin laki-laki dan wanita. dan kami jadikan kalian berkelompok-kelompok dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini dengan jelas Allah swt menyebutkan, bahwa manusia itu terdiri dari dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Ini menegaskan bahwa kedua-duanya adalah manusia. Kemudian Allah menyebutkan pula, bahwa Ia menjadikan manusia itu berkelompok-kelompok dan bersuku-suku, namun itu semua menyimpan tujuan, yaitu untuk saling mengenal, bukan untuk saling menyombongkan diri; menganggap kelompok sendiri lebih mulia dari yang lain. Sebab, di akhir ayat itu Allah menyebutkan, bahwa standar kemulian itu adalah taqwa. Jadi, satu suku tidak akan lebih mulia dari yang lain kecuali dengan taqwa, sebagaimana seorang laki-laki tidak akan dianggap lebih mulia dari seorang wanita kecuali dengan taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jelaslah bahwa Islam datang untuk menolak ajaran lain yang menolak wanita sebagai manusia atau memandangnya tidak lebih dari binatang yang dapat diperjual belikan atau dibunuh. Sebagaimana seorang laki-laki tidak dianggap lebih mulia dari pada seorang wanita hanya karena dia sebagai seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Kesamaan dalam mendapatkan pahala atas pekerjaan baik yang dilakukan oleh kaum wanita, sebagaimana firman Allah swt: “Siapa yang melakukan amal kebaikan dari golongan laki-laki atau perempuan, maka kami akan memberikan padanya kehidupan yang baik (QS: An-Nahl, 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allamah Muhammad Husein Thabathabai, di dalam kitab tafsirnya Al-Mizan menjelaskan, bahwa ayat ini merupakan janji Allah yang indah bagi setiap orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, dan merupakan kabar gembira bagi kaum wanita, dimana Allah tidak membedakan mereka dengan kaum lelaki dalam penerimaan iman mereka dan pemberian pahala terhadap amal sholeh yang mereka amalkan, yaitu kehidupan yang baik atau dengan bahasa lain adalah kesempurnaan dan kebahagian hidup di dunia serta derajat yang tinggi di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allamah melanjutkan, ayat tersebut menunjukkan, bahwa Islam menolak ajaran Yahudi dan Nasrani yang menghalangi wanita untuk mendapatkan derajat yang tinggi melalui amal mereka; derajat yang tinggi itu khusus kaum lelaki saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi kita Muhammad saww. juga di dalam kehidupannya mempraktekkan hal ini. Bagaimana beliau sangat mencintai dan menghormati putri beliau, Sayyidah Fathimah Az-Zahra as dengan mencium, bangun dari tempat duduk beliau saat menyambut kehadirannya, dan bahkan menempatkannya sebagai ibu beliau sendiri (ummu abiyhaa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, beliau memproklamirkan kepada khalayak ramai, bahwa putrinya -walaupun seorang wanita- telah mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, sehinggga kecintaan dan kebenciaannya adalah kecintaan dan kebencian Allah swt Sungguh kedudukan yang tidak dapat diraih oleh kebanyakan laki-laki. Suatu hal yang tidak lazim dan tidak pernah terbayangkan oleh masyarakat arab di zaman itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan, bahwa suatu hari beliau keluar sambil memegang tangan putrinya, Fathimah, seraya bersabda: “Siapa yang mengenalku sungguh ia telah mengenalnya dan siapa yang tidak mengenalnya, maka ketahuilah bahwa ia adalah Fathimah putri Muhammad. Dia adalah belahan jiwaku. Dia adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku maka telah menyakiti Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Kesamaan di dalam tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya, baik yang berhubungan dengan kewajiban personal ataupun sosial. Maka, sebagaimana wajib atas seorang laki-laki melakukan sholat lima kali dalam sehari, atas wanita juga demikian. Atas seorang laki-laki wajib melakukan puasa di bulan Ramadhan, wanita juga memiliki kewajiban yang sama. Begitu juga, kaitannya dengan kewajiban yang bersifat kemasyarakatan seperti: zakat dan khumus, wanita pun memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki. Bahkan, pada kewajiban yang harus dilakukan bersama-sama dan tidak kosong dari nuansa politis seperti haji, wanita pun memiliki kewajiban yang sama layaknya laki-laki. Sebagaimana seorang wanita pun boleh ikut serta dalam shalat Jamaah dan shalat Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam juga kita kenal ada kewajiban jihad dan amar makruf nahi munkar. Sebagian kaum muslimin berpandangan, bahwa kewajiban ini hanya untuk laki-laki saja, namun ketahuilah, bahwa jihad dan amar makruf nahi munkar itu tidak hanya berupa perang dengan mengangkat senjata atau sejenisnya, namun ada bentuk-bentuk lain dari jihad dan amar ma’ruf nahi munkar, misalnya dengan pena, ceramah ataupun bentuk-bentuk lainnya yang dapat dilakukan oleh laki-laki dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Kesamaan dalam hak warisan, artinya sebagaimana seorang laki-laki berhak untuk mendapatkan warisan dari peninggalan ayahnya, ibunya, saudaranya atau istrinya, maka seorang wanita juga berhak untuk mendapatkan warisan dari peninggalan mereka. Antara keduanya tidak ada yang dapat menghalangi satu sama lain. Allah berfirman di dalam Al-Quran surat An-Nisa’:7, “Orang laki-laki berhak mendapatkan warisan dari apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat mereka. Dan orang perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan warisan dari kedua orang tua dan kerabat mereka, baik sedikit atau banyak dari harta yang ditinggalkan, sebagai bagian yang telah ditentukan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ayat ini menjelaskan prinsip kesamaan hak untuk mendapatkan warisan, dalam rangka menolak ajaran lain yang menafikan hak warisan bagi kaum wanita, walaupun Allah swt –dalam ayat lain- membedakan jumlah dan bagian yang berhak diterima oleh seorang wanita dengan bagian yang diterima oleh seorang anak laki-laki, karena adanya mashlahat yang Allah swt lebih tahu akan hal itu. &lt;br /&gt;Kelima: Kesamaan dalam penciptaan, artinya Allah swt menciptakan wanita sebagai makhluk secara tersendiri, bukan dari sisa orang laki-laki sebagaimana sering kita dengar; bahwa ibu Hawa, sebagai wanita yang pertama di atas muka bumi ini, diciptakan dari Nabi Adam as. Coba perhatikan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيَن أَنَّهُ قَالَ: سُئِلَ أَبُوْعَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلاَم عَنْ خَلْقِ حَوَّاء مِنْ ضِلْعِ آدَمَ اْلأَيْسَرِ اْلأَقْصَى، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا، أَيَقُوْلُ مَنْ يَقُوْلُ هَذَا أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنَ الْقُدْرَةِ مَا يَخْلُقُ ِلآدَمَ زَوْجَهُ مِنْ غَيْرِ ضِلْعِهِ، وَيْجعَلُ لِلْمُتَكَلِّمِ مِنْ أَهْلِ التَّشْنِيْعِ سَبِيْلاً إِلَى الْكَلاَمِ أَنْ يَقُوْلَ: إِنَّ آدَمَ كَانَ يَنْكِحُ بَعْضَهُ بَعْضًا إِذَا كَانَتْ مِنْ ضِلْعِهِ، مَا لِهَؤُلاَءِ حَكَمَ اللهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ . . . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Zurarah bin A’yan, bahwa Abu Abdillah, Imam Ja’far Ash Shodiq as pernah ditanya tentang penciptaan Hawa dari tulung rusuk Nabi Adam as. yang sebelah kiri bagian bawah, maka beliau bersabda: “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dengan setinggi-tingginya, apakah orang-orang yang berpendapat demikian akan mengatakan, bahwa Allah swt tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan istri Nabi Adam selain dari tulang rusuknya? Lalu, apakah dengan pendapat ini mereka bermaksud untuk memberikan alasan bagi orang yang akan mencela dan menghujat, bahwa Nabi Adam mengawini bagian tubuhnya sendiri? Mengapa harus berpendapat yang demikian? Semoga Allah yang memberikan keputusan antara kami dengan mereka ... (Kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih, 3/270)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lanjutan hadits tersebut ,Imam kemudian menceritakan, bahwa Hawa diciptakan oleh Allah swt secara terpisah dari Nabi Adam as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Kesamaan hak pendidikan dan pelajaran. Dikarenakan tugas yang sama yang harus dilakukan oleh masing-masing pria dan wanita, dan tugas tersebut tidak dapat dilakukan secara baik dan benar kecuali dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan tentang tugas tersebut, maka hak belajar guna meraih pengetahuan yang dapat menunjang pelaksanaan tugas dengan baik dan benar itu sama-sama dimiliki oleh pria dan wanita. Oleh karena itu, kita dapatkan ayat Al-Quran yang menerangkan, bahwa Allah swt akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan menuntut ilmu tidak dibatasi dengan kata laki-laki. Begitu juga, hadits-hadits yang mengharuskan kita menuntut ilmu itu tidak dibatasi dengan kata laki-laki. Adalah hak setiap anak atas orang tua dan sekaligus merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya ialah mengajarkannya membaca, menulis dan hal-hal lain yang bermanfaat baginya. Itu semua tidak diperuntukkan pada anak laki-laki saja. Coba perhatikan beberapa hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• حق الولد على والده أن يحسن اسمه ويحسن أدبه ويعلمه القرآن &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merupakan kewajiban seorang ayah terhadap anaknya; memberinya nama yang baik, mendidik akhlaqnya dan mengajarkannya Al-Quran” (Imam Ali as, Nahjul Balaghah, Hikmah No.399)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• أدبوا أولادكم على ثلاث، حب نبيكم وأهل بيته وقراءة القرآن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Didiklah anak kalian atas tiga perkara; mencintai Nabi kalian, keluarga Nabi kalian dan membaca Al-Quran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan dua hadits ini, Nabi atau Imam Ali menggunakan kata Awlaad yang artinya anak yang mencakup laki-laki dan perempuan, bukan kata abnaa atau ibn, yang khusus untuk anak laki-laki. Jadi, kewajiban ayah atas anaknya, baik laki atau perempuan adalah membekali mereka dengan pengetahuan Al-Quran yang merupakan sumber segala pengetahuan yang fundamental dan dibutuhkan dalam kehidupan dunia serta akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, karena keberadaan wanita yang lebih banyak di dalam rumah dan tidak memiliki kewajiban untuk mencari nafkah di luar rumah serta rasa kasih sayang yang dimilikinya lebih banyak dari seorang laki-laki, maka mendidik anak merupakan tugas utama seorang wanita, dan untuk mendidik tentu dibutuhkan pembekalan diri dengan ilmu pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, kita dapatkan beberapa hadits yang mengkhususkan kewajiban orang tua untuk membekali anak perempuannya dengan ilmu pengetahuan, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من كانت له ابنة فأدبها وأحسن أدبها وعلمها فأحسن تعليمها فأوسع عليها من نعم الله التي أسبغ عليه كانت له منعة وسترا من النار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang memiliki anak perempuan, maka dia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan baik, kemudian dia memberikan keluasan nafkah dari berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah, maka ia telah mendapatkan jaminan perlindungan dari api neraka” (Kanzul Ummal, Hadits No.45391). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita pada Masyarakat Modern&lt;br /&gt;Wanita di zaman modern atau masa kini; di tengah masyarakat yang menganut sistem kapitalis dan meninggalkan nilai-nilai religius serta ajaran-ajaran agama, malah mengalami set back, kembali lagi ke masa-masa kelam sebelumnya. Wanita modern, walaupun dianggap sebagai manusia, diperlakukan tak ubahnya barang dagangan dalam rangka meraih keuntungan material ataupun nonmaterial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saksikan di zaman ini, wanita diperjualbelikan untuk dipekerjakan sebagai pemuasan seks kaum lelaki. Di tempat lain, dengan dalih kebebasan dan problem ekonomi, wanita siap menjadi pelampiasan seks kaum lelaki dengan imbalan sejumlah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, wanita juga menjadi alat pemasaran produk dan lapisan yang menarik simpati para konsumen. oleh karena itu, hampir semua pramugari yang siap senyum kepada setiap penumpang pesawat adalah wanita-wanita cantik. Mereka ini diharuskan mengenakan pakaian yang membuka bagian anggota tubuh yang menggoda kaum lelaki. Begitu pula para sales di mall, super market dan tempat-tempat lainnya. Bahkan, banyak sekali kita menjumpai deretan iklan di media cetak ataupun elektronik yang menampilkan wajah dan tubuh wanita, walaupun tidak ada hubungannya dengan barang produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan di Balik Persamaan&lt;br /&gt;Sebagai sebuah realitas yang tidak dapat dipungkiri, bahwa wanita dan laki-laki adalah dua makhluk yang memiliki perbedaan alami. Tentunya, ada tugas dan kewajiban yang berbeda pula di antara keduanya. Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana tidak akan menetapkan hukum dan aturan yang tidak memiliki hikmah dan mashlahat. Namun, segala yang Ia tetapkan pasti mengandung mashlahat dan hikmah yang mungkin saja akal manusia -yang sangat terbatas ini- tidak memahami dan menjangkaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, merupakan keniscayaan di dalam ajaran Islam adanya beberapa perbedaan hukum dan hak antara wanita dan laki-laki, dimana Allah swt memberikan hak tersebut hanya kepada kaum lelaki saja dan tidak kepada kaum wanita, juga ada beberapa kewajiban yang dibebankan hanya kepada kaum lelaki saja, tidak kepada kaum wanita. Umpamanya, kewajiban jihad dengan senjata, kewajiban mencari nafkah, hak menjadi hakim (walaupun lebih tepatnya disebut sebagai kewajiban bukan hak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Allah swt juga telah menetapkan beberapa kewajiban dan hak yang khusus bagi kaum wanita saja, tidak bagi kaum lelaki, di antaranya yang menyangkut ihwal hamil, menyusui dan melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan masing-masing dari hak dan kewajiban yang tersebut di atas, maka jelaslah bagi kita jawaban pertanyaan; apakah wanita memiliki kesempatan meraih pahala yang kurang dari pria karena tidak dapat melakukan berjihad dengan senjata, mencari nafkah dan menjadi hakim yang semuanya memiliki pahala yang besar? Jawabannya, tidak. Sebab, wanita pun memiliki kesempatan mendapatkan pahala besar yang tidak dapat diperoleh oleh kaum lelaki, seperi hamil, menyusui dan melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Asma’ binti ‘Umais datang menemui Rasulullah saww dan menyampaikan protes kaum wanita yang tidak dapat melakukan banyak hal yang dapat dilakukan oleh kaum lelaki dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah! Kami kaum wanita hanya melahirkan anak-anak kalian kaum laki-laki, menyusui anak, mengurusi urusan rumah tangga kalian, sedangkan kalian dapat jihad dan mati syahid, shalat Jamaah, shalat Jumat dan menghantarkan jenazah? Rasul menjawab: “Jihad seorang wanita adalah menjadi istri yang baik”. Artinya kurang lebih, bahwa kalian kaum wanita akan mendapatkan apa yang didapati oleh kaum lelaki jika kalian mempersiapkan kaum lelaki untuk melakukan apa yang kalian sebutkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111651109496232028?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111651109496232028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111651109496232028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111651109496232028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111651109496232028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/wanita-dalam-perspektif-islam.html' title='Wanita Dalam Perspektif Islam'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111650972116820815</id><published>2005-05-19T06:28:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T06:37:00.500-07:00</updated><title type='text'>KHALID BIN WALID</title><content type='html'>Khalid Bin WalidORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin? demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam. Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik. Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka\'bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka?bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina. Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka?bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, ?O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu?. Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya. Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur?an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu. Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam. Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu. Latihan Pertama Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya. Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi. Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat. Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya. Menentang Islam Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam. Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi. Peristiwa Uhud Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar. Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud. Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing. Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam. Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak. Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan. Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan. Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang. Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat. Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam. Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy. Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111650972116820815?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111650972116820815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111650972116820815' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111650972116820815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111650972116820815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/khalid-bin-walid.html' title='KHALID BIN WALID'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111633160234243298</id><published>2005-05-17T04:51:00.000-07:00</published><updated>2005-05-17T05:08:09.546-07:00</updated><title type='text'>Menelusuri Sejarah Perang Salib</title><content type='html'>Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Simak akhlaq Salahuddin al-Ayyubi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton &amp; London: 1991). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak Terjang Tentara Salib &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1145-1147 pecah Perang Salib II. Namun perang besar-besaran terjadi pada Perang Salib III. Di pihak Kristen dipimpin Phillip Augustus dari Prancis dan Richard “Si Hati Singa” dari Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria keturunan Seljuk ini kebetulan mempunyai paman yang menjadi petinggi Dinasti Fathimiyyah. Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel). Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks--bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.*(habib)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111633160234243298?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sabilillah.blogspot.com' title='Menelusuri Sejarah Perang Salib'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111633160234243298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111633160234243298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111633160234243298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111633160234243298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/menelusuri-sejarah-perang-salib.html' title='Menelusuri Sejarah Perang Salib'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111633053535368461</id><published>2005-05-17T04:44:00.000-07:00</published><updated>2005-05-17T04:49:45.073-07:00</updated><title type='text'>Pemimpin, Pemikir dan Philosof HAMAS yang Inspiratif</title><content type='html'>" Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik..." (QS. Al-Ankabut, 29 : 69) &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Kalian telah kembali dari jihad Sepanjang sejarah revolusi Palestina belum pernah mengenal seorangpun seperti Jamal Manshur, yang diberi berbagai kistimewaan oleh Allah swt. Mulai dari karisma, akal yang cerdas, pemikiran yang cemerlang, nurani yang tajam, jauh pandangan, kekuatan hujjah dan lisan yang cekatan. Sampai-sampai dia disebut-sebut sebagai pemikir penting bagi gerakan islam di Palestina secara umum dan Gerakan Perlawanan Islam HAMAS secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 25 Februari 1960, kamp pengungsi Balatah dekat Nablus menyambut kelahiran salah seorang pemimpin gerakan Islam, atau tepatnya pemimpin gerakan perlawanan rakyat Palestina. Hari itu cahaya Jamal Abdul Rahman Muhammad Manshur telah menerangi keluarga Palestina yang memiliki akar keturunan dari desa Salama dekat Yafa (Tel Aviv) yang diusir penjajah Zionis Israel bersama ribuan keluarga Palestina lainnya ke kamp pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, Jamal Manshur melanjutkan studinya di Universitas Nasional al Najah pada tahun 1978. Sejak saat itulah, bersama sejumlah rekannya, dia meletakan dasar pendirian perhimpunan mahasiswa Islam di kampus-kampus Palestina. Dia memimpin perhimpunan ini dengan segenap kepercayaan dan kemampuan hingga menjadi elemen mahasiswa terkuat di peta kemahasiswaan khususnya di Universitas Nasional al Najah yang menjadi sarang berbagai aliran pemikiran dan ideology kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan studi S1 pada tahun 1982, dia melanjutkan studi di bidang Magister Ilmu Politik di kampus yang sama. Pada tahun 1986, Jamal Manshur menikah dengan seorang aktivis mahasiswi di perhimpunan mahasiswa islam Palestina. Dari pernikahannya ini dikaruhiahi 5 orang anak: Ibtihal, Bayan, Baker, Aman dan Badr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidup dan sepanjang perjalanan jihadnya, Syaikh Jamal Manshur telah memberikan andil dan sumbangsih bagi pondasi gerakan islam dan nasional Palestina. Demi menjalankah tugas inilah akhirnya beliau mendapatkan banyak ujian dan cobaan. Syaikh Jamal adalah pendiri sekaligus ketua cabang Komite Bantuan Islam di distrik Nablus. Dia juga termasuk wartawan penting yang bertugas di kantor pers di Nablus, yang kemudian ditutup oleh pihak penjajah Zionis Israel setelah beliau diculik dan ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jamal juga mendirikan dua lembaga masing-masing untuk penelitian dan kajian yang kemudian ditutup oleh pemerintah Otoritas Palestina. Beliau termasuk tokoh penting islam sekaligus sebagai pemimpin Gerakan Perlawanan Islam HAMAS di Palestina. Salah seorang tokoh penting yang meluncurkan inisiatif proyek pembangunan dan pengembangan. Dia juga pendiri sekaligus menjadi direktur pusat informasi dan kajian Palestina hingga akhir masa hidupnya setelah aksi pembunuhan atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh Palestina mulai dari utara hingga selatan mengenal Jamal “Abu Bakar” Manshur. Palestina mengenalnya lewat suaranya yang lantang menyerukan intifadhah dan revolusi, Palestina mengenalnya dengan pemikiran dan idenya yang cemerlang, melalui dakwah-dakwahnya yang membangun, melalui manejemennya yang sukses dalam intifadhah pertama dan kedua. Palestina telah mengenalnya sementara dia berada dalam pembuangan di Maraj Zuhur memimpin demonstrasi “al Khalidin” yang seluruh pesertanya mengenakan baju putih, dia dikenal lewat suaranya yang tegas dalam ruang interogasi sementara sinar matanya membakar sel-sel penjara penjajah Zionis Israel dengan kekuatan tekad dan kehendaknya. Palestina telah menganalnya lewai kesabarannya dalam menghadapi berbagai ujian saat di dalam penjara Zionis Israel, dialah yang dikenal pertama kali mendandatangani dokumen berdarah yang melindungi hak-hak pengungsi Palestina dan meminta mereka dikembalikan ke tanah halamannya. Palestina telah mengenalnya sebagai anak yang menepati janjinya untuk Yafa, Aka dan Haifa. Palestina telah mengenalnya sebagai bocah di tengah-tengah masyarakat dan sebagai pejuang di tengah medan laga serta sebagai pemimpin di antara para tokohnya. Seluruh Palestina telah mengenalnya…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar kehidupan Syaikh Jamal Manshur dihabiskan dapam berbagai ujian dan cobaan. Tiada kenal lelah, putus asa maupun lemah terhadap apa saja yang menimpanya, semuanya dianggapnya baik. Slogan yang selalu dikumandangkan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak peduli ketika ku terbunuh sebagai muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam posisi apapun ku terbunuh di jalan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jamal ditangkap 3 kali saat masih kuliah karena aktivitas di perhimpunan mahasiswa islam dan perannya dalam amal islami serta di organisasi al ikhwan al muslimin di Nablus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ditangkap sebagai tahanan administratif selama 1 tahun (1988 – 1989) dan dihabiskan di penjara Nagev. Belum sempat dibebaskan hingga kemudian dia ditahan kembali sebagai tahanan administratif dan kembali mendekam di penjara Nagev selama 6 bulan. Sebulan setelah dibebaskan, Jamal “Abu Bakar” Manshur ditangkap kembali dan ditahan selama 6 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1991, dia kembali ditangkap dan mendekam di penjara Nagev selama 6 bulan sebelum kemudian dibuang oleh Zionis Israel ke Maraj al Zuhur besama para sahabatnya yang kemudian berhasil mengubah dataran tinggi Golan yang gersang menjadi rumah ilmu, inkubator ide dan pemikiran serta mimbar dakwah. Dari sana mereka sampaikan ke dunia potret hakiki tentang ide dan pemikiran HAMAS, tentang sejarah dan ikatan ideologinya dengan tanah Palestina dan kemanusiaan. Mereka menjelaskan kepada utusan-utusan yang mengunjunginya dari penjuru dunia arti penderitaan yang dialami orang-orang Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama rekan-rekannya, Syaikh Jamal mengorganisir aksi-aksi menunut kembali ke tanah air mereka di Palestina sampai akhirnya Allah memberikan kenikmatan yang tiada terkira. Sekembali Syaikh Jamal bersama para sahabatnya ke tanah air Palestina, beliu kembali ditangkap pada tahun 1995 dan kembali menjalani penyidikan dan interogasi selama 100 hari kemudian dibebaskan setelah para introgator Zionis Israel tidak berhasil mengorek satu hurufpun dari lisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rihlah perjalanan yang penjang dari penjara dan penyiksaan. Yang menjadi karakter istimewa selama menjalani perjalanan berat itu adalah komitmennya untuk selalu diam, hal yang justru membuat jasadnya mengalami banyak penderitaan dan penyiksaan demi menolak tunduk kepada para introgator atau mengaku dalam sel penyiksaan. Yang terpenting dari itu adalah bahwa dia menikmati semua luka dan derita yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang pengalaman perjalanan penahanan bersama pemerintah Palestina dan penjaranya tidak lebih ringan yang sebelumnya di dalam penjara-penjara Zionis Israel. Pada tahun 1996, Jamal Manshur ditangkap pemerintah Palestina dan mendekam dalam penjara Nablus selama 83 hari. Dia pun dibebaskan setelah ada campur tangan langsung presiden Palestina yang datang sendiri membebaskannya dari tahanan. Sebelum kemudian ditangkap kembali dan mendekam dalam penjara selama 3 tahun. Selama itu tekanan terus dialaminya, termasuk larangan menjenguk ibunya yang sudah mendekati ajal kematian. Bahkan dilarang ikut menghantarkan jenazah ibunya ke pemakaman setelah ibunya meninggal dunia, bahkan sekadar berdiri di rumah duka untuk menerima para tamu yang berta’ziah saja tidak diperkenankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun seakan 3 dasa warsa, karena begitu beratnya penderitaan yang dialaminya di dalam penjara pemerintah Palestina. Tak seorang pun dapat membebaskannya kecuali meletusnya intifadhah al Aqsha (September 2000), yang juga telah membebaskan rakyat Palestina dari belenggu kesepakatan-kesepakatan. Dan akhirnya, Jamal Manshur gugur syahid dalam aksi serangan Zionis Israel terhadap Pusat Studi dan Informasi Palestina yang dia dirikan. Dia mendapatkan dari doa dan harapannya agar setiap mili tubuhnya mendapat bagian syahadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apakah sosok Jamal Manshur dalam pendangan keluarganya. Ummu Bakar, istri Jamal Manshur, menuturkan kondisi keluarganya setelah sang suami gugur syahid. Dia mengatakan, “Meski ada jeda besar yang ditinggalkan atas kesyahidan suamiku, namun saya merasa bangga bahwa Allah swt telah memilihnya sebagai syuhada’. Alhamdulillah, Dia telah memilih suamiku sebagai syuhada’ sehingga membuka jalan bagi kami menuju syurga; karena seorang yang mati syahid dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang dari keluarga dan kerabatnya. Secara pribadi saya melihat Abu Bakar (Jamal Manshur) telah sukses dalam madrasah (keluarga) mentarbiyah (mendidik) istri dan anak-anaknya dengan tarbiyah shahihah (pembinaan yang benar). Saya memohon kepada Allah swt agar menolong saya dalam kemudahan meniti jejaknya mendidik kelima anak saya mengikuti jalan ayahnya dan tetap dengan janjinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kepada kaum hawa Ummu Bakar berpesan, “Bagi wanita muslimah harus ridha dengan apa yang ditetapkan Allah swt kepadanya. Dia harus bersabat dan senantiasa mengharap kepada-Nya, agar berdoa memohon kepada Allah swt dalam munajatnya, Allahumma Ajirni fii Mushibati Wakhlufni Khairan Minha (Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku ini dan gantikan dengan yang lebih baik darinya). Karena taqdir Allah pasti terjadi dan tidak ada yang bisa menolaknya, Dia-lah Allah Dzat yang memberi dan yang mengambil. Seorang wanita muslimah harus memuji kepada Allah karena suami, anak atau saudaranya telah dipilih oleh Allah untuk gugur syahid. Sebagaimana yang Dia firmankan, “Dia yang mengambil dari kalian sebagai syuhada’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai peran Abu Manshur di rumahnya, Ummu Bakar mengatakan, “Insya Allah, segala tentang Abu Bakar (Jamal Manshur) akan tetap tinggal dalam hidupku. Saya benar-benar telah kehilangan seorang suami yang setia. Sungguh, saya telah kehilangan seorang ayah yang mahal dan seorang ibu yang lembut. Saya sungguh telah kehilangan seorang sekutu dalam hidupku dan rekan dalam pernjalannku baik dalam senang maupun susah, saya telah kehilangan seorang sahabat yang paling jujur. Saya menganggap diriku telah kehilangan seorang penuntun yang elok dan keibuan atas kesyahidannya di dunia ini. Namun saya memohon kepada Allah swt agar menggantikan yang lebih baik untukku pada anak-anakku, agar menggantikan untukku dan anak-anak kecilku dengan kesyahidannya balasan syurga yang abadi. Agar Allah menolongku hingga datangnya hari itu di mana Allah menggantikan buat anak-anakku yang telah kehilangan orang tua dengan kesyahidannya. Dia benar-benar seorang suami dan ayah yang pandai memasukan kebahagiaan ke dalam hati dan jiwa kami semua. Itu adalah suatu kebahagiaan dan kesenangan buat mereka. Bagi kami semua, dia adalah teladan (qudwah). Teladan yang dia ambil dari Rasulullah saw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hari kesyahidannya, Ummu Bakar menuturkan bahwa pada hari itu dia bangun pagi-pagi sekali dan menyampaikan kepada istrinya bahwa salah seorang rekannya yang telah syahid mendatanginya dalam mimpi dan berbicara dengannya lewat telepon. Kemudian sang teman bilang kepada Jamal Manshur, “Saya sangat merindukanmu dan menunggumu di syurga, ikutlah bersama kami.” Menurut Ummu Bakar, pada malam sebelum kesyahidannya dia banyak berbincang tentang syahadah (mati syahid), para syuhada’ dan karamah mereka di sisi Allah. Dia berbicara panjang lebar dengan anak-anaknya seputar masalah ini dan meminta mereka agar tidak menangis apabila dia menemui syahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Ummu Bakar, bau wangi minyak miski tidak pernah hilang dari baju dan peralatannya sampai seminggu lamanya setelah dia syahid. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan kepada rekan seperjuangannya dalam amal islami, asy Syahid Shalah Daruza, yang telah syahid mendahulinya tetap terngiang di telinga ribuan orang saat dia mengatakan, “Sungguh, kami iri kepadamu, wahai Shalah. Engkau telah mendahuluiku menggapai syahadah. Aku tidak mengatakan selamat tinggal, tapi aku katakan sampai jumpa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamal Manshur seakan telah merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, terutama setelah kesyahidah sabahat dekatnya, Shalah Daruza. Seminggu setelah kesyahidan Shalah penuh dengan peristiwa-peristiwa yang sangat berkesan bagi Syaikh Jamal. Seakan setiap gerak dan isyaratnya menunjukan bahwa dia adalah seorang syahid…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Selasa (31 Juli 2001) adalah puncak aktivitas dan kerja jihad yang dilakukan Syaikh Jamal. Hari itu dia menggelar pertemuan dengan kader dan aktivis gerakan (HAMAS) seakan dia memberikan wasiat dan menyerahkan panji kepada mereka. Seakan dia merasa bahwa kehidupan dunianya telah memasuki tahap hitungan mundur, seakan hidupnya tinggal hitungan jam atau menit, bukan lagi hitungan hari atau bahkan minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada pukul 13:45 hari itu, direktur Pusat Kajian dan Informasi Palestina telah menyelesaikan persiapan kebutuhan konferensi pers yang akan diadakan oleh asy Syahid Jamal Sulaim dan Jamal Manshur di kantornya guna menyampaikan press release berkaitan dengan sikap pemimpin politik HAMAS atas operasi penangkapan pemeritnah Palestina terhadap agen arsitek pembunuhan keji terhadap asy Syahid Shalah Daruza seminggu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba telepon untuk Syaikh Jamal berdering lembut, pembicara dari seberang mengklaim sebagai wartawan kantor berita radios Inggris ingin melakukan wawancara dengan Syaikh Jamal kemudian hubungan terputus. Dalam detik-detik ini dua wartawan independen Muhammad Bisyawi dan Utsman Quthnani adalah yang pertama sampai di tempat konferensi. Berkumpul 5 orang ditambah seorang lagi, Umar Manshur, yang tidak lain adalah pengawal Syaikh Manshur dan Sulaim. Enam orang bertemu, sementara mereka mengetahui bahwa kebebasan itu harganya mahal, bahwa jihad itu dapat bersemi bila disiram dengan darah para syuhada’. Para pemimpin politik ini bertemu bersama dua wartawan independen, pada saat yang sama mereka mengetahui bahwa di sana ada kelompok lain yang siap melancarkan kejahatan untuk membidik mereka, kelompok segitiga pendengki yang telah siap melancarkan serangan; para antek jahat, apache Amerika dan kesatuan teroris Zionis. Mereka siaga melancarkan rudal-rudalnya ke kantor Pusat Kajian dan Informasi Palestina hingga ke-enam orang ini menemui Rabbnya sebagai syuhada’ bersama dua orang bocah Palestina yang saat itu tengah lewat di depan kantor, dengan anggota tubuh yang sudah tidak bisa dikenali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan rudal ini telah menggemparkan seluruh pelosok entitas Palestina. HAMAS sendiri tidak merasa kehilangan pemimpin mereka, namun rakyat Palestina lah yang sangat merasa kehilangan seorang tokoh besar yang selalu mencintai dan membela mereka, berpindah dari satu penjara ke yang lainnya, antara penjara ke pembuangan demi mempertahankan hak-hak rakyat Palestina yang sangat mahal dengan darah bahkan dengan sesuatu yang paling mahal dan sakral, nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan ini segera saja meluapkan emosi ribuan warga Nablus yang diiringi dengan gema takbir, tangis dan tuntutan aksi serangan balasan terhadap penjajah Zionis Israel untuk menepati janji kepada para syuhada’. Keesokan harinya, ribuan warga Nablus dan daerah sekitarnya mengiringi jenazah tokoh besar rakyat Palestina, Syaikh Jamal Mansur. (habib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecil menuju jihad besar..." (Al-Hadits)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111633053535368461?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sabilillah.blogspot.com' title='Pemimpin, Pemikir dan Philosof HAMAS yang Inspiratif'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111633053535368461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111633053535368461' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111633053535368461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111633053535368461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/pemimpin-pemikir-dan-philosof-hamas.html' title='Pemimpin, Pemikir dan Philosof HAMAS yang Inspiratif'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12736387.post-111554631351214776</id><published>2005-05-08T02:51:00.000-07:00</published><updated>2005-05-17T04:41:47.403-07:00</updated><title type='text'>PERANG JIHAD</title><content type='html'>Ketanggapan yang romantis&lt;br /&gt;Orang Muslim menegaskan dengan keras bahawa Jihad, atau Perang Jihad, hanya adalah satu kaedah untuk mempertahankan diri dan tidak pernah digunakan sebagai satu kegiatan menyerang. Ini digariskan di dalam nota-nota penjelasan dari Sahih Muslim:&lt;br /&gt;   The romantic ideal &lt;br /&gt;Muslims emphatically insist that the Jihad, or Holy War, was only a means of defence and was never used as an offensive act. This is underlined in the explanatory notes of the Sahih Muslim: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jihad di dalam Islam bukan satu kegiatan kejam yang ditujukan dengan sembarangan terhadap orang bukan Islam; ia adalah nama yang diberikan kepada satu perjuangan yang membulat yang seorang Muslim harus melancarkan terhadap Kejahatan di dalam apa jua bentuk atau rupa pun ia menjelma. Berlawan di dalam jalan Allah hanya salah satu aspek Jihad. Ini juga di dalam Islam bukannya satu perbuatan pengganasan yang menggila... Ia mempunyai fungsi MATERIAL dan MORAL, iaitu pemeliharaan diri sendiri dan pemeliharaan peraturan moral di dalam dunia." ("Sahih Muslim, III, m.s. 938 - ayat penjelasan).    "Jihad in Islam is not an act of violence directed indiscriminately against the non-Muslims; it is the name given to an all-round struggle which a Muslim should launch against evil in whatever form or shape it appears. Fighting in the way of Allah is only one aspect of Jihad. Even this in Islam is not an act of mad brutality....It has MATERIAL and MORAL functions, i.e. self-preservation and the preservation of the moral order in the world." ("Sahih Muslim, III, page 938 - explanatory note).  &lt;br /&gt;"Pedang itu tidak digunakan secara membabi-buta oleh orang Muslim; ia telah digunakan semata-matanya dengan perasaan keperikemanusiaan untuk kepentingan umat manusia yang lebih luas" (ibid. ms. 941 - juga nota penjelasan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12736387-111554631351214776?l=sabilillah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sabilillah.blogspot.com' title='PERANG JIHAD'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabilillah.blogspot.com/feeds/111554631351214776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12736387&amp;postID=111554631351214776' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111554631351214776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12736387/posts/default/111554631351214776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabilillah.blogspot.com/2005/05/perang-jihad.html' title='PERANG JIHAD'/><author><name>sabilillah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11973484329204148643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
